Srawung Budaya di Kota Lama: Catatan Perjalanan Bangunkota Menemui Tradisi


KetemuID --- Perjalanan budaya sering kali dimulai dari hal yang sederhana: berjalan kaki, berbincang, dan memberi waktu pada ruang untuk bercerita. Itulah yang dilakukan Bangunkota dalam perjalanannya ke Jawa Tengah.  sebuah lelakon singkat namun padat makna, menyusuri kota, menemui komunitas, dan belajar dari tradisi yang masih hidup.

Kota Lama: Ruang Srawung yang Terbuka

Semarang menjadi titik awal. Kawasan Kota Lama dipilih bukan semata karena nilai sejarahnya, tetapi karena kawasan ini memperlihatkan bagaimana ruang lama bisa terus berfungsi sebagai ruang srawung hari ini. Bangunan tua, jalanan sempit, dan aktivitas warga membentuk lanskap sosial yang mempertemukan masa lalu dan masa kini.


Di ruang ini, Bangunkota membaca kota bukan sebagai objek pembangunan, melainkan sebagai ruang hidup. Nongkrong, berjalan, dan mengamati menjadi cara untuk memahami bagaimana sejarah, pariwisata, dan aktivitas kreatif saling berdampingan—kadang selaras, kadang saling tarik-menarik.

Diskusi sebagai Ruang Belajar Bersama

Masih di Semarang, Bangunkota melanjutkan perjalanan dengan berdiskusi bersama Komunitas Hysteria. Pertemuan ini menjadi ruang bertukar pengalaman tentang seni, pengelolaan ruang budaya, dan tantangan komunitas dalam menjaga praktik budaya di tengah keterbatasan ruang dan sumber daya.


Diskusi ini menegaskan satu hal: budaya tidak selalu lahir dari institusi besar. Ia tumbuh dari konsistensi komunitas yang merawat ruang, menjaga dialog, dan terus membuka kemungkinan kolaborasi.

Ambarawa: Sejarah dan Arah Masa Depan

Perjalanan kemudian bergerak ke Ambarawa. Kunjungan ke Benteng Ambarawa menjadi pengingat bahwa ruang bersejarah bukan sekadar peninggalan, tetapi fondasi identitas. Dari sini, Bangunkota melihat bagaimana sejarah dapat menjadi titik berangkat untuk membaca arah masa depan.

Di Ambarawa pula, Bangunkota bertemu dengan Mas Dimas, Exco ICCN sekaligus Anggota Komite Ekonomi Kreatif Jawa Tengah. Percakapan berkembang pada isu ekosistem kreatif, peran komunitas dalam pembangunan daerah, serta pentingnya jejaring lintas kota untuk menjaga keberlanjutan praktik budaya.


Kunjungan ke kantor Komite Ekraf Jawa Tengah di kawasan Rawa Pening memperlihatkan hubungan erat antara alam, ruang, dan aktivitas kreatif—sebuah pendekatan yang menempatkan budaya tidak terpisah dari konteks lingkungan.

Papringan: Tradisi yang Dijalani

Tujuan utama perjalanan ini adalah Pasar Papringan Ngadiprono di Temanggung. Pasar yang digelar setiap Minggu Pon dan Minggu Wage ini menghadirkan pengalaman berbeda tentang pasar dan tradisi. Di tengah kebun bambu, warga dan pengunjung bertemu dalam suasana yang akrab dan bersahaja.


Keunikan Pasar Papringan terletak pada penggunaan kepingan bambu pring sebagai alat tukar. Sistem ini mengajak setiap orang untuk lebih sadar dalam bertransaksi, memperlambat ritme, dan menghargai nilai di balik setiap barang yang dibeli. Pasar menjadi ruang sosial, bukan sekadar tempat jual beli.

Menemui Tradisi, Membaca Masa Kini

Bagi Bangunkota, perjalanan ini bukan tentang mengumpulkan destinasi, melainkan tentang menemui tradisi dan membaca konteksnya hari ini. Dari Kota Lama hingga Papringan, tampak bahwa budaya bertahan karena dirawat—oleh komunitas, oleh ruang, dan oleh relasi antar manusia.

Perjalanan ini memperlihatkan bahwa srawung masih menjadi kunci. Melalui pertemuan, percakapan, dan keterlibatan langsung, budaya tidak hanya dikenang, tetapi dijalani. Di tengah perubahan kota dan zaman, praktik-praktik semacam ini menjadi pengingat bahwa masa depan budaya berangkat dari keberanian untuk hadir, belajar, dan merawat bersama. 

—--------------------------------- 

Tentang Bangunkota

Bangunkota adalah gerakan komunitas kreatif yang berfokus pada penguatan ruang budaya, ruang publik, dan kolaborasi lintas komunitas di kota. Melalui perjalanan, diskusi, dan praktik baik, Bangunkota berupaya membaca kota sebagai ruang hidup—tempat alam, budaya, identitas, warga dan masa depan saling terhubung. Bangunkota percaya bahwa kota yang berdaya tumbuh dari komunitas yang aktif merawat ruang dan tradisi.

 

PJ dan Kerja Sama Media: 

      Dwitisya

      Direktur Komunikasi & Kreatif Bangunkota

      085737719936  

      Media Sosial: bangunkota.id

 









Previous Post Next Post