Pembangunan fasilitas publik ini merupakan hasil kolaborasi Gerakan TurunTangan bersama ARKOM Indonesia, Akademi Arsitektur Komunitas Aceh (AKAR Aceh), Arsitek Muda Aceh, serta masyarakat yang terlibat sejak proses perencanaan hingga pembangunan. Pendekatan partisipatif tersebut dilakukan agar setiap fasilitas yang dibangun sesuai dengan kebutuhan warga dan dapat dimanfaatkan dalam jangka panjang.
Balai Warga di Desa Pengidam menyimpan kisah tersendiri. Sebagian material kayu yang digunakan berasal dari batang-batang pohon yang terbawa arus banjir. Material tersebut kemudian dimanfaatkan kembali sebagai bagian dari bangunan, menghadirkan ruang berkumpul baru bagi masyarakat untuk bermusyawarah, berdiskusi, belajar, serta menyelenggarakan berbagai kegiatan bersama.
Sementara itu, MCK Komunal di Desa Pantai Cempa dibangun untuk memperluas akses sanitasi yang layak. Bersamaan dengan itu, Sarana Air Bersih juga dihadirkan untuk mendukung kebutuhan air masyarakat. Kehadiran kedua fasilitas tersebut diharapkan dapat membantu aktivitas sehari-hari warga sekaligus meningkatkan kualitas layanan dasar di lingkungan sekitar.
Dalam rangkaian peresmian di Desa Pantai Cempa, Anies Baswedan turut mewarnai mural bertema air yang menghiasi dinding MCK Komunal. Mural tersebut dibuat sebagai bagian dari ruang publik yang dibangun bersama masyarakat.
Tema air dipilih sebagai ruang refleksi atas peristiwa yang telah dilalui warga Aceh Tamiang sekaligus pengingat akan pentingnya hidup berdampingan dengan alam. Bagi masyarakat, mural tersebut menggambarkan semangat untuk bangkit dan menata kembali kehidupan setelah banjir. Ilustrasi yang ditampilkan membawa pesan tentang harapan, ketangguhan, kesabaran, dan pentingnya kebersamaan dalam menghadapi berbagai tantangan.
"Bencana memang meninggalkan luka, tetapi gotong royong selalu memberi jalan untuk bangkit. Peresmian balai warga, MCK komunal, dan sarana air bersih hari ini membuktikan bahwa harapan dapat dibangun kembali saat masyarakat, relawan, serta berbagai pihak bergerak bersama. Semoga fasilitas ini menjadi ruang yang menguatkan kebersamaan, memberi manfaat luas, serta menjadi pengingat bahwa setiap tantangan dapat dihadapi bersama."
Rangkaian kegiatan ini juga melibatkan relawan Gerakan TurunTangan dari Aceh, Lhokseumawe, Binjai, Medan, Langsa, dan Bireuen. Para relawan turut membersamai proses persiapan hingga peresmian sebagai bentuk dukungan terhadap upaya pemulihan masyarakat Aceh Tamiang.
Kolaborasi antara Gerakan TurunTangan, ARKOM Indonesia, Arsitek Muda Aceh, AKAR Aceh, relawan, dan masyarakat menunjukkan bahwa pemulihan pascabencana memerlukan keterlibatan banyak pihak. Keterlibatan warga sejak awal proses pembangunan turut mendorong rasa memiliki terhadap fasilitas yang telah dibangun, sehingga diharapkan dapat dijaga dan dimanfaatkan bersama.
Peresmian Balai Warga, MCK Komunal, dan Sarana Air Bersih menjadi bagian dari perjalanan masyarakat Aceh Tamiang dalam melanjutkan proses pemulihan setelah banjir. Delapan bulan setelah bencana, masyarakat kembali memiliki ruang berkumpul, akses sanitasi yang lebih baik, serta sarana air bersih yang mendukung kehidupan sehari-hari. Semangat gotong royong yang melahirkan fasilitas-fasilitas tersebut diharapkan terus hidup, seiring langkah masyarakat membangun masa depan yang lebih tangguh.


